Running Text menggunakan MK

RUNNING TEXT DENGAN MIKROKONTROLLER AT89S51

Dicky Apdilah, Lukman Hakim
Staf Pengajar Amik INTeL COM GLOBAL INDO
dicky@nusa.net.id

Abstrak
Microcontroller sebagai pengendali dari tampilan yang berupa teks, baik dalam penulisan,gerak tulisan maupun animasi dari tampilan teks pada papan disain. Microcontroler yang saat ini merupakan kendali sederhana dengan tingkat kerumitan tidak terlalu sulit sehingga banyak di gunakan khususnya akademisi pd labolatorium simulasi maupun implementasi sederhana, hal itu dikarenakan kombinasi elektronika dengan program sederhana yang tertanam didalam IC AT89S51.

Kata kunci : Microcontroller, Runinng Teks, Display

1. Latar Belakang

Kemajuan teknologi yang begitu pesat mengakibatkan semakin meningkatnya kebutuhan manusia, salah satunya adalah kebutuhan manusia akan informasi.

Perkembangan teknologi disegala bidang khususnya elektronika digital memungkinkan suatu rancangan bentuk fisik yang lebih sederhana, efisien, ekonomis dan kinerja yang semakin baik pula.

Oleh sebab itu hal ini berpengaruh dengan situasi, kondisi dan cara hidup manusia sehari-hari dimana manusia lebih membutuhkan sesuatu yang lebih cepat, tepat dan akurat dalam memperoleh informasi.

Mikrokontroler sebagai teknologi baru yaitu teknologi semikonduktor kehadiranya sangat membantu perkembangan dunia elektronika.

Dengan arsitektur yang praktis tetapi memuat banyak kandungan transistor yang terintegrasi, sehingga mendukung dibuatnya rangkaian elektronika yang lebih portable.

Untuk produk ini sendiri merupakan rangkaian aplikasi penggabungan antara elektronika yaitu sensor-sensor optic, motor stepper dan mikrokontroler, dimana kesemuaannya dapat dioperasikan secara otomatis melalui input data – data program yang telah dimasukkan kedalam mikrokontroler.

Microkontroler adalah sebuah IC yang didalamnya terdapat sebuah prosesor dan sebuah memori. Prosesor ini berfungsi untuk mengolah data, dan memori berfungsi untuk menyimpan data.

Dan yang telah disimpan ke memori dapat dihapus dan ditulis lagi dengan data yang baru dengan menggunakan downloader sebagai interfacenya dan sebuah softwere tertentu sebagai editornya (tempat penulisan program).

2. LANDASAN TEORI
2.1 LED (Light Emiting Dioda)
LED pada umumnya digunakan sebagai indikator visual karena tanggapannya yang cepat dan efisiensi-nya tinggi dibanding lampu pijar. Konversi energi LED adalah 10 sampai 50 kali lebih tinggi. Dan tanggapannya 100 sampai 1000 kali lebih cepat.

Gambar 2.1. LED (Light Emiting Diode)

LED dapat mengemisikan cahaya hijau, kuning, merah, jingga, biru ataupun infra merah bila diberi tegangan forward bias. Kebanyakan LED memiliki batas tegangan maksimum antara 3 sampai 5 volt. Sebuah tahanan harus dipasang seri untuk membatasi arus agar tidak melebihi harga maksimum yang diperbolehkan pada LED.

Resistor pembatas arus ini nilainya dapat dihitung. Untuk arus maju If dan tegangan catu Vcc, yaitu

………………..…………(2.1)

Dimana
R = Tahanan sebagai pembatas arus
Vcc = Tegangan Catuan
If = Arus Forward
Vf = Tegangan Forward

Resistor pembatas arus dapat dihubungkan ke katoda ataupun ke anoda LED. Kecerahan cahaya LED tergantung pada arus maju yang melewatinya. LED bekerja pada arus 20 mA dan maksimum 30-40 mA.

Penentuan polaritas LED yang paling mudah dan paling akurat adalah dengan mengujinya secara langsung. Jika LED menyala, maka katoda adalah pena yang terhubung ke kaki negatif atau ground.

2.2. MIKROKONTROLLER

Mikrokontroller AT 89S51 adalah sebuah mikrokontroller buatan ATMEL. Mikrokontroller ini masih termasuk dalam keluarga mikrokonteroller MCS-51 yaitu merupakan versi yang dilengkapi dengan ROM (internal) yaitu berupa EEPROM. Mikrokontroller AT89S51 adalah low power high performance CMOS 8 bit, 4 Kbit flash programmable and eresable read only memory (PEROM).

IC mikrokontroller ini kompatible dengan standar MCS-51 baik dari instruksi maupun pena-penanya yang dapat diaplikasikan sebagai embedded controller.

Gambar 2.1 Diagram Blok Mikrokontroller

Berikut ini adalah kemampuan yang dimiliki oleh mikrokontroller AT89S51:

1. Kompatibel dengan keluarga MCS-51.
2. 4 Kbyte programmable flash memory (PEROM) di dalam chip yang dapat ditulis dan dihapus sampai seribu kali.
3. Dapat beroperasi pada frekuensi 0 sampai 24 .
4. 3 level program kunci memori.
5. 128×8 bit RAM internal.
6. 32 jalur I/O.
7. Duah buah timer/counter 16 bit.
8. 6 buah jalur interupsi.
9. Serial channel yang dapat diprogram.
10. Hemat catu daya dan power down modes.

2.3 Blok Diagram Mikrokontroller
Dari diagram blok pada gambar 2.1 terlihat bahwa terdapat beberapa blok internal dari IC AT89S51 seperti:
ALU (Aritmatic Logic Unit)
ALU adalah suatu unit yang melaksanakan proses aritmatik dan logika seperti penjumlahan, pengurangan, pembagian, AND, OR, X – OR, rotasi, clear dan komplemen operasi percabangan.

1. Akumulator
Akumulator adalah merupakan register aritmatika yang berfungsi sebagai penampung data sebelum dan sesudah proses. Sebagian besar instruksi pemrosesan pada AT89S51 menggunakan akumulator sebagai operand sumber atau tujuan pengiriman data dan ke port.
2. Register B
Register B digunakan selama operasi perkalian/pembagian 8 bit dan dapat juga digunakan sebagai register operand sumber atau operand tujuan.
3. Stack Pointer
Stack pointer digunakan sebagai tempat penyimpanan variabel data yang ditindih dalam memori atau sebagai register petunjuk.
4. RAM (Random Access Memory)
RAM adalah memori yang dapat dibaca atau ditulis. Data dalam RAM akan terhapus (bersifat volatile) bila catu daya dihilangkan.
Karena sifat RAM yang volatile ini, maka program mikrokontroller tidak disimpan dalam RAM. RAM digunakan untuk menyimpan data sementara, yaitu data yang tidak begitu vital bila hilang akibat aliran daya terputus. RAM pada IC ini mempunyai kapasitas sebesar 128 byte × 8 bit.
5. TMP1/TMP2
TMP1/TMP2 berfungsi sebagai timer/counter 16 bit yang terangkai secara internal.
6. Program Address Register
Program address register merupakan alamat register dari program.
7. Buffer
Dilihat dari fungsinya, buffer pada IC ini merupakan penyangga agar data yang dipindahkan dari suatu register ke register lain tetap atau tidak berantakan.
8. RAM Address Register
RAM address register merupakan sebagai jalan menuju RAM. Semua pengolahan data memakai RAM harus terlebih dahulu melewati RAM address register.

Blok diagram dari mikrokontroller AT89S51:

Gambar 2.2 Pin-pin Mikrokontroller AT89S51

Dengan keistimewaan diatas, pmbuatan alat dengan menggunakan mikrokontroller AT89S51 menjadi lebih sederhana dan tidak memerlukan komponen-komponen pendukung eksternal yang banyak.

2.4 Timer/Counter
Satu chip mikrokontroller ini memiliki dua timer yang dapat dikonfigurasikan beroperasi sebagai timer atau counter. Saat berfungsi sebagai timer, isi register timer ditambah satu untuk tiap siklus mesin, sedangkan untuk fungsi counter isi register akan bertambah 1 setiap ada transisi sinyal pada pin input eksternal. Pada pemanfaatan sebagai counter, sinyal input yang dimaksudkan dapat berupa low level atau falling edge trigger.

Counter akan mencacah setiap masukan yang ada sesuai inisialisasi harga awal dari counter pada nilai hitungan untuk tiap sampling. Inisialisasi harga awal ini berupa nilai preset negatif counter yang diatur sebelum counter dijalankan.

Demikian halnya dengan pemanfaatan timer yang memerlukan inisialisasi awal berupa

konstanta waktu yang menentukan sampai berapa lama akan terjadi roll over. Penentuan harga preset ini berhubungan dengan penggunaan frekuensi clock dari sistem penentu waktu sampling dari counter untuk mencacah suatu pulsa masukan dari luar dengan memanfaatkan kontrol interupsi yang ada serta pengaturan program.

Sebagai tambahan pada pemilihan timer/counter, timer 0 dan timer 1 mempunyai 4 buah modul yang dapat dipilih dengan menentukan pasangan bit M0 dan M1 pada register TMOD. Untuk pemilihan timer/counter dikontrol dengan bit C/T di TMOD.
1. Mode 0
Pada mode ini timer register dikonfigurasikan sebagai register 13 bit. Ke 13 bit register tersebut terdiri dari 8 bit TH1 dan 5 bit TL1. Selama perhitungan roll over dari semua 1 ke semua 0, TF1 (Timer Interrupt Flag) di set. Pada dasarnya operasi mode 0 sama untuk timer 0 dan timer 1.
2. Mode 1
Mode 1 adalah timer register 16 bit dan dapat generator boudrate. Operasi mode 1 sama dengan mode 0.
3. Mode 2
Mode 2 adalah timer register dengan konfigurasi 8 bit counter (TL1) auto reload. Overflow dari TL1 tidak hanya menset TF1 tapi juga mereload TL1 dengan isi TH1. Setelah reload isi TH1 tidak akan berubah. Operasi mode ini juga sama dengan timer/counter 0.
4. Mode 3
Pada mode ini timer 1 tidak akan bekerja. Sedangkan timer 0 menjadi 2 counter yang terpisah. TL0 digunakan sebagai bit kontrol untuk timer 0; C/T, GATE, TR0, INT0 dan TF0 seolah-olah mengontrol timer 1.

2.5 Serial Interface
Port I/O serial yang dimiliki oleh mikrokontroller, memiliki karakteristik full duplex (dapat menerima sekaligus mengirimkan data secara simultan). Port serial dapat bekerja dalam 4 mode:

1. Mode 0:
Pada mode 0 ini data serial diterima dan dikirim lewat pin RxD, sedangkan pin TxD berfungsi untuk mengirimkan shift clock. Data yang dikirim dan diterima 8 bit. Kecepatan pengiriman (baud rate) adalah tetap sebesar 1/12 frekuensi osilator.
2. Mode 1:
Pada mode ini data 8 bit dikirim/diterima dengan 2 bit tambahan, dengan urutan:
1. Start bit (logika 0),
2. 8 bit data (dengan bit terendah didepan),
3. 1 stop bit (logika 1).
Pada saat penerimaan, stop bit masuk pada bit RB8 pada register SCON. Baud rate pada mode ini adalah variabel.
3. Mode 2:
Pada mode ini data 8 bit dikirim/diterima dengan 3 bit tambahan dengan urutan :
1. Start bit (logika 0),
2. 8 bit data (dengan bit terendah didepan),
3. 1 bit tambahan yang dapat diprogram,
4. 1 stop bit (logika 1).
Pada saat pegiriman, bit yang dapat diprogram adalah bit yang terdapat pada bit TB8 pada SCON. Pada saat penerimaan, bit yang dapat diprogram masuk pada bit RB8 pada register SCON. Baud rate pada mode ini adalah 1/32 atau 1/64 frekuensi osilator.
4. Mode 3:
Pada mode ini data 8 bit dikirim/diterima dengan 3 bit tambahan dengan urutan:
1. Start bit (logika 0),
2. 8 bit data (dengan bit terendah didepan),
3. 1 bit tambahan yang dapat diprogram,
4. 1 stop bit (logika 1).
Mode ini persis sama dengan mode 2 kecuali baud ratenya yang variabel.

2.6 Pengaturan Baud Rate
Baud rate adalah kecepatan transmisi data serial, berupa banyaknya transmisi logika pada saluran data serial tiap detik. Semakin besar nilai baud rate semakin cepat proses pengiriman/penerimaan data serial. Pada mode 1 dan 3 baud ratenya ditentukan oleh persamaan:

2.7 Perangkat Instruksi
Perangkat lunak adalah seperangkat instruksi yang disusun menjadi sebuah program
untuk memerintahkan mikrokomputer melakukan suatu pekerjaan. Sebuah instruksi selalu berisi kode operasi (op-code), kode pengoperasian inilah yang disebut dengan bahasa mesin yang dapat dimengerti oleh mikrokontroller.

Instruksi-instruksi yang digunakan dalam memogram suatu program yang diisikan pada AT89S51 adalah instruksi bahasa pemograman assembler atau sama dengan instruksi pemograman pada IC mikrokontroller 8031 dan MCS51.

2.8 Komunikasi Data serial

Dikenal dua cara komunikasi data secara serial, yaitu komunikasi data serial secara sinkron dan komunikasi data serial secara asinkron. Pada komunikasi data serial sinkron, clock dikirimkan bersama-sama dengan data serial, sedangkan komunikasi data serial asinkron, clock tidak dikirimkan bersama data serial, tetapi dibangkitkan secara sendiri-sendiri baik pada sisi pengirim (transmitter) maupun pada sisi penerima (receiver).

Pada IBM PC kompatibel port serialnya termasuk jenis asinkron. Komunikasi data serial ini dikerjakan oleh UART (Universal Asynchronous Receiver/Transmitter). IC UART dibuat khusus untuk mengubah data paralel menjadi data serial dan menerima data serial yang kemudian diubah kembali menjadi data paralel.

IC UART 8250 dari Intel merupakan salah satunya. Selain berbentuk IC mandiri, berbagai macam mikrokontroller ada yang dilengkapi UART, misalnya keluarga mikrokontroller MCS-51.

Pada UART, kecepatan pengiriman data (baud rate) dan fase clock pada sisi transmitter dan pada sisi receiver harus sinkron. Untuk itu diperlukan sinkronisasi antara transmitter dan receiver. Hal ini dilakukan oleh bit ‘start’ dan bit ‘stop’. Ketika saluran transmisi dalam keadaan idle, output UART adalah dalam keadaan logika ‘1’. Ketika transmitter ingin mengirimkan data, output UART akan diset lebih dulu ke logika ‘0’ untuk waktu satu bit. Sinyal pada receiver akan dikenal sebagai sinyal ‘start’ yang digunakan untuk mensinkronkan fase clock-nya sehingga sinkron dengan fase clock transmitter.

Selanjutnya data akan dikirimkan secara serial dari bit yang paling rendah sampai bit tertinggi. Selanjutnya, akan dikirim sinyal ‘stop’ sebagai akhir dari pengiriman data serial. Cara pemberian kode data yang disalurkan tidak ditetapkan secara pasti.

Kecepatan transmisi (baud rate) dapat dipilih bebas dalam rentang tertentu. Baud rate yang umum dipakai adalah 110, 135, 150, 300, 600, 1200, 2400, dan 9600 (bit/detik). Dalam komunikasi data serial, baud rate dari kedua alat yang berhubungan harus diatur pada kecepatan yang sama. Selanjutnya, harus ditentukan panjang data (6, 7 atau 8 bit ), paritas (genap, ganjil atau tanpa paritas), dan jumlah bit ‘stop’ (1, 1,5, atau 2 bit).

2.8.1 Karakteristik Sinyal Port Serial

Standart sinyal komunikasi serial yang banyak digunakan adalah standart RS-232 yang dikembangkan oleh Electronic Industry Association and The Telecommunications Industry Association (EIA/TIA) yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1962. Ini terjadi jauh sebelum IC TTL populer sehingga sinyal ini tidak ada hubungan sama sekali dengan level tegangan IC TTL.

Standart ini hanya menyangkut komunikasi data antara komputer (Data Terminal Equipment – DTE) dengan alat-alat pelengkap komputer (Data Circuit Terminating Equipment – DCE). Standart RS-232 inilah yang biasa digunakan pada port serial IBM PC kompatibel.

Standart sinyal serial RS-232 memiliki ketentuan level tegangan sebagai berikut :
1. Logika ‘1’ disebut ‘mark’ terletak antara -3 volt hingga -25 volt.
2. Logika ‘0’ disebut ‘space’ terletak antara +3 volt hingga +25 volt.
3. Daerah tegangan antara -3 volt hingga +3 volt adalah invalid level, yaitu daerah tegangan yang tidak memiliki level logika pasti sehigga harus dihindari. Demikian juga level tegangan lebih negatif dari -25 volt atau lebih positif dari +25 volt juga harus dihindari karena tegangan tersebut dapat merusak line driver pada saluran RS-232.

Dalam proyek tugas akhir ini, Penulis memakai kata ‘Open door’ sebagai kode kunci. Dengan kata lain, karakter yang akan dikirimkan tersebut berbentuk bahasa manusia. Karena komputer hanya memahami bahasa digital, maka karakter yang akan dikirimkan tersebut terlebih dahulu diubah ke dalam bentuk digital. Tabel berikut merupakan contoh pengubahan kode kunci ‘Open door’ menjadi data digital tanpa paritas dalam format ASCII.

Tabel 2.1 Pengubahan Karakter ‘Open door’ Menjadi Data Digital Tanpa Bit Paritas
Kode b6 b5 b4 b3 b2 b1 b0
O 1 0 0 1 1 1 1
P 1 1 1 0 0 0 0
E 1 1 0 0 1 0 1
N 1 1 0 1 1 0 1
Spasi 0 1 0 0 0 0 0
D 1 1 0 0 1 0 0
O 1 1 0 1 1 1 1
O 1 1 0 1 1 1 1
R 1 1 1 0 0 1 0

2.8.2 Konfigurasi Port Serial

Gambar berikut adalah gambar IC buffer serial dan konektor port serial DB–9 pada bagian belakang CPU. Pada komputer IBM PC kompatibel biasanya dapat kita temukan dua konektor port serial DB–9 yang biasa dinamakan COM 1 dan COM 2.

Gbr 2.3. Konektor serial DB -9 pada bagian belakang CPU

2.9 REGISTER GESER
IC CMOS 4094 terdiri dari 8 tingkat register geser dengan sebuah data latch (pengunci) untuk masing-masing tingkat dan sebuah keluaran dengan 3 keadaan dari setiap pengunci. Data akan bergeser saat pulsa clock berada pada transisi positif. Data keluaran Qs digunakan dalam sistem kaskade berkecepatan tinggi.
Data keluaran Qs bergeser pada saat berada pada saat transisi negatif yang digunakan dalam sistem kecepatan rendah. Data dari masing-masing register di latch pada saat transisi negatif dari masukan strobe. Data akan lewat latch saat strobe aktif tinggi. Keluaran dari ke 8 data latch dan dikontrol oleh penyangga tiga keadaan dengan memberi masukan impedansi tinggi pada masukan keluaran enabel.

Gbr 2.4. konfigurasi pin CMOS 4094

4. PERANGKAT KERAS (Hardware)

Perancangan hardware dilakukan dengan beberapa tahap, dimana tahap pertama adalah penggambaran diagram blok dari sistem yang akan dibuat. Diagram blok Diagram blok merupakan pernyataan hubungan yang berurutan dari satu lomponen ke komponen yang lainnya yang memiliki satu kesatuan kerja. Diagram blok dari sistem Running Text ditunjukkan pada gambar.

Gambar 4.1 : Diagram Blok Sistem
Berikut ini adalah penjelasan dari diagram blok diatas:

1. Komputer berfungsi sebagai media untuk memasukkan pesan yang akan ditampilkan berupa kode ASCII pada memori IC Mikrokontroller.
2. IC RS232 yang berfungsi sebagai komunikasi serial antara Komputer-PC dengan mikrokontroller secara serial dua arah.
3. Mikrokontroller yang berfungsi sebagai pusat pengelolah yaitu:
-mengubah kode biner ASCII ke bentuk tampilan Dot Matrix
-mengendalikan tampilan Dot Matrix
-memori mikrokontroler sebagai tempat program dan data untuk
4. IC 4094 yang berfungsi sebagai buffer dan register geser.
5. Dot matrik sebagai tempat penampilan karakter yang akan ditampilkan dengan susunan 7 baris x 5 kolom.

Rangkaian Sistem Minimum Mikrokontroller

Dalam modifikasi karakter berjalan ini, diperlukan rangkaian mikrokontroller yang berfungsi sebagai pusat pengelola data dan penyimpanan data atau program dari Komputer PC dengan menggunakan Port Serial dan juga sebagai interface data.

Frekuensi yang dipakai pada rangkaian ini adalah oscillator 11,0582 MHz yang berfungsi untuk membangkitkan pulsa pada rangkaian mikrokontroller. Berikut ini gambar rangkaian sistem minimum mikrokontroller yang digunakan.

Gambar 4.2 : Modifikasi Rangkaian Mikrokontroller

Pada pembuatan tugas akhir ini adalah karena port serial membutuhkan lebih sedikit kabel dan dapat digunakan untuk komunikasi data yang relatif jauh meskipun data yang dikirimkan bit demi bit.

Port serial mikrokontroller AT 89S51 mempunyai sifat full duplex yaitu dapat mengirimkan dan menerima data secara bersamaan, register penerima dan pengirim pada port serial diakses pada SBUF (Serial Buffer) register pengontrol kerja port serial ini adalah SCON (Serial Control).

SCON yang diset pada pembuatan karakter berjalan ini adalah mode 1, dimana bit dikirim melalui Txd atau diterima melalui Rxd. Format ke 10 bit tersebut adalah sebagai berikut:

Gambar 4.3 : Serial Mode 1

4.2 Rangkaian Dot Matrix

Untuk mendrive LED-LED Dot Matrix digunakan register geser CMOS 4094, dimana setiap chip mempunyai delapan D-flip-flop yang disusun sebagai register geser. Setiap LED dihubungkan pada keluaran dari D-flip-flop. Rangkaian driver ini juga berfungsi sebagai penggeser bit-bit data secara seri dan mengeluarkannya secara paralel seperti ditunjukkan pada gambar.
Dari gambar 3.4 dapat dilihat bahwa setiap kolom LED Dot matrix memerlukan satu chip 4094 sehingga untuk menampilkan satu karakter dengan 7×5 dot memerlukan 5 buah chip 4094, dimana masukan untuk chip kolom berikutnya diambil dari keluaran dari fip-flop yang ke delapan dari chip kolom sebelumnya. Masukan Data, Clock, EO dari chip kolom 1 dihubungkan ke keluaran port P3 dari mikrokontroller AT89S51.

Gambar 4.4 : Rancangan Driver LED Dot Matrix Susunan Dot Matrix

Susunan Dot Matrix terdiri dari LED yang disusun atas 7 baris dan 64 kolom, dimana untuk menampilkan satu karakter memerlukan 7 baris dan 5 kolom seperti ditunjukkan pada.

Gambar 3.5. Susunan Dot Matrix

Untuk menampilkan huruf “A“ kode heksanya adalah 7CH, 12H, 11H, 12H, 7CH kode–kode inilah yang dikeluarkan dari Port 3.5. Lingkaran yang berwarna hitam merupakan LED yang aktif dan dinyatakan sebagai logika 1 dan yang tidak berwarna adalah LED yang tidak aktif dan dinyatakan sebagai logika 0 (nol).

5. PERANGKAT LUNAK (Software)

Agar komputer dapat mengirim data yang akan ditampilkan pada Dot Matrix maka pada komputer dan mikrokontroler harus dimasukkan program. Program pada komputer adalah untuk membaca karakter ASCII dari Keyboard dan mengirimkannya secara serial melalui COM1.

Pada mikrokontroller dimasukkan program untuk membaca ASCII karakter dari komputer, mengubahnya ke kode Dot Matrix dan menampilkannya dan program ini dinamai program Running Text.

5.1 Program Runnig Text.
Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan mikrokontroller untuk pengendalian running text adalah sebagai berikut:

1. Inisialisasi unit Timer dan Serial
2. Membaca tampilan awal berupa kode-kode ASCII yang disimpan pada memory EPROM dan mengubahnya ke bentuk Dot Matrix serta menyimpanya pada Buffer dan kemudian menampilkannya pada DOT Matrix.
3. Memeriksa ada tidaknya data ASCII yang dikirimkan komputer pada buffer serial.
4. Jika ada, Baca data ASCII dan diubah ke bentuk Dot Matrix serta menyimpannya pada buffer.
5. Jika tidak ada, maka tampilkan karakter sebelumnya yang ada pada buffer.

Gambar 5.1 Diagram Alir Utama

Jika tidak ada pesan yang diberikan dari komputer tampilan akan berulang. Untuk mengubah pesan yang akan ditampilkan program Baca_Kirim dieksekusi pada komputer. Berikut diberikan hasil tampilan awal monitor komputer PC saat program Baca_Kirim diekseskusi.

6. Kesimpulan

Setelah menyelesaikan tulisan dan pembuatan serta menganalisa didapat kesimpulan :
1. Pembuatan display board ini sangat efisien untuk dilakukan karena dalam perancangan dan pengujiannya dapat dilakukan blok per blok sehingga lebih mudah dalam mendeteksi kesalahan pada rangkaian.
2. Rangkaian Buffer diperlukan dalam penyimpanan data sementara sebelum ditampilkan ke modul display
3. Dengan mengaplikasikan system penginput data melalui SMS mempermudah dalam pertukaran data karena dapat dilakukan dari jarak yang jauh.
4. Pengendalian text menggunakan SMS memiliki kendala dalam pembacaan data yang diberi batasan namun dapat diatasi dengan pengiriman sinyal ulang kembali.

Daftar Pustaka

1. Malik Moh Ibnu, Anistardi. Bereksperimen Dengan Mikrokontroller 8031.
PT. Elex Media Komputindo. Jakarta; 1997.

2. Setiawan Rachmad.
Mikrokontroller MCS-51. Graha Ilmu. Yogyakarta; 2006.

3. TEDC Bandung. Komponen Elektronika Jilid I. Jakarta; 1993.

4. TEDC Bandung. Komponen Elektronika Jilid II. Jakarta.; 1993

5. Hutahaen, berman, dkk. 1992, Teknik Penulisan Laporan Ilmiah. Medan;Politeknik Negeri Medan
6. P.E.D.C. 1984, Rangkaian Elektronika. Bandung; P.E.D.C. Bandung
7. P.E.D.C. 1984, Perangkat Elektronika Bandung; P.E.D.C. bandung
8. Ibnu malik, Mohammad, ST, 2003,Belajar Mikrokontroller Atmel AT89S51, Jakarta. Gava Media
9. Datasheet mikrokontroller AT89S51. Atmel Corp